Baki Dimsum & Coffee: Kopi Rasa Senja

Sore itu, 26 Agustus 2017, alunan musik digital berdentum-dentum di rooftop sebuah bangunan di daerah Jalan Pintu Selatan UPN, Yogyakarta.

Bangunan berlantai tiga tersebut diberi nama Baki Dimsum & Coffee. Musik yang berdentum adalah bagian dari kemeriahan acara pembukaan tempat kuliner baru itu.

Ya, hari itu adalah pesta pembukaan Baki Dimsum & Coffee.

Matahari beranjak tenggelam ketika acara dimulai. Cahayanya yang keemasan berpendar-pendar, terlihat begitu indah dari rooftop bagunan ini. Semilir angin dan segelas cappucino membuat suasana sore itu sungguh sempurna.

Semakin sore, jumlah pengunjung yang hadir untuk memeriahkan acara semakin banyak. Musik yang dimainkan DJ pun semakim berdentum-dentum.

Dito Ontohod, pengelola Baki Dimsum & Coffee, menyambut semua orang yang hadir dengan senyum hangat. Raut bahagia terus terpancar dari wajahnya.

Acara sore itu dipandu oleh MC Dimas Hutomo Sahanda. DJ-DJ yang tampil yaitu Yoga, Norman, Aira, dan Gioandikara.

Selepas azan Isya berkumandang, penonton dihibur dengan doorprize. Beberapa pengunjung yang beruntung mendapatkan hadiah seru dari Baki Dimsum & Coffee beserta para sponsor.

Tak lama berselang, Answer Sheet hadir mengisi acara. Grup musik asli kota Jogja ini membawakan beberapa lagu yang membuat malam itu terasa lebih hangat.

Sampai malam, masih banyak tamu yang datang. Seperti tak memiliki rasa lelah, Dito terus menyambut mereka dengan senyuman.

Pria berambut gondrong ini sudah cukup lama menjadi penikmat kopi. Syahdan, kecintaannya pada kopi itulah yang mendasari pilihannya membuka usaha coffee shop.

Ditemui pada waktu yang terpisah, Dito menjelaskan bahwa Baki Dimsum & Coffee baru didirikan pada bulan Juni 2017. Pada kesempatan singkat itu, sedikit-banyak ia juga menceritakan kecintaannya terhadap kopi.

“Dulu sih masih di Jakarta tahun 2014-2015, gua udah bikin warung kopi sama temen gua bertiga,” ujar Dito dengan logat Betawi yang sangat kental. “Nah, dari situ gua explore, sih. Terus akhirnya jadi tau lebih banyak, jadi lebih seru aja. Ternyata udah selama ini gua tau tentang kopi, masih selalu ada hal yang baru di kopi. Jadinya, masih enak buat di-explore.”

Ia tak menjelaskan mengapa akhirnya ia lebih memilih membuka kedai kopi di Jogja ketimbang di Jakarta. Secara jujur, Dito mengungkapkan bahwa ia merasa sangat nyaman dengan atmosfer perkopian di Jogja.

“Kalau di Jogja tuh gua lebih deket sih sama orang-orang yang suka kopi,” ujar Dito dengan raut muka serius. “Entah dia yang punya kafe, entah dia yang barista, atau yang suka kopi aja, atau jurnalis-jurnalis yang suka nulis-nulis tentang kopi. Kayaknya jadi lebih deket ke situ aja sih. Jadi lebih enak mainnya, karena kenal kan.”

Ditanya soal alasan memakai nama Baki, Dito tak memiliki jawaban spesifik.

“Namanya Baki, soalnya wadahnya dimsum kan pake baki. Basically, gue suka kopi, terus temen gue suka hot chocollate. Nah, jadi kita jual dimsum sama kopi. Jadinya, kita jual apa yang kita suka aja sih. Nggak ada alasan tertentu,” ujar Dito sambil terkekeh.

Kalau ada hal yang paling unik dari Baki Dimsum & Coffee, menurut saya adalah bentuk bangunannya yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama didesain seperti kedai kopi pada umumnya, lantai dua terdapat meja biliar, dan lantai tiga adalah rooftop.

Jujur, saya jatuh cinta pada rooftop bangunan ini. Di antara sekian banyak kedai kopi di Jogja yang juga mengusung tema rooftop, pemandangan dari rooftop Baki Dimsum & Coffee adalah yang paling juara. Soalnya, Anda bisa menikmati sunset kota Jogja dengan begitu jelas.

“Karena gue kurang suka ruangan yang tertutup, jadinya gua pake rooftop gini buat dijadiin salah satu space gua buat bermeditasi,” ujar Dito ketika ditanya perihal alasannya memilih konsep rooftop. “Siapa tau ada orang-orang yang sama kayak gua, yang nggak suka di dalam ruangan. Jadi bisa ada space baru lah buat elo bermeditasi gitu.”

Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika hujan tiba-tiba turun. Pasalnya, rooftop ini sama sekali tidak memiliki atap sebagai tempat berlindung.

Pada musim kemarau seperti sekarang, hal itu tentu tak jadi masalah. Namun, bagaimana jika musim hujan tiba?

“Kalau ujan, ya ujan-ujanan,” kelakar Dito. “Atau pindah ke bawah. Sedia payung sebelum hujan juga bisa.” Ia terbahak.

Bicara soal kopinya, tentu tak kalah petjah jika dibandingkan dengan konsep bangunannya. Baki Dimsum & Coffee menawarkan berbagai varian rasa yang patut Anda coba.

“Nama-namanya sih kalau menurut gua yang baru,” ujar Dito, menjelaskan keunggulan produknya. “Kayak Natania, Anastasia Skirt, Anastasia Lingerie, terus Madukismo, terus kita punya cocktail juga namanya Seturan Sunset.”

Artinya, tempat ini bukan hanya untuk pecinta kopi saja. Jika Anda bukan peminum kopi, ada pilihan lain yang bisa Anda nikmati sambil menyaksikan pemandangan terbenamnya mentari yang super epic!

Jika Anda adalah pecinta kopi, maka Anda memilih tempat yang tepat. Lidah Anda akan sangat dimanjakan oleh beans-beans spesial pilihan Dito.

“Sebenernya, semua beans yang ada di sini kalo menurut gua spesial. Karena gua tau beans-nya dapet dari mana, yang roasting siapa,” ujar Dito penuh semangat.

Meskipun ia mengakui belum memiliki kebun kopi sendiri, namun ia sengaja mempelajari setiap kebun kopi tempat beans-beans-nya berasal. Alasannya, ia ingin benar-benar tahu dari mana asal kopinya.

Basically, sekarang gua pake kopi dari Jawa Barat aja. Karena ada mission impossible yang bakal gua kerjakan nanti, makanya gua pilih kopi Jawa Barat,” ujar Dito penuh misteri.

Ada satu hal lagi yang ditekankan oleh pria berambut gondrong ini: “Gua nggak suka sesuatu hal yang instan, seperti mesin-mesin yang sudah ada gitu. Tinggal pencet jadi kopi. Gua pengen yang lebih dari itu. Jadinya gua pake mesin piston, yang lu harus punya tenaga lebih, dibandingkan lo harus mencet mesin Espresso lo doang.”

Penasaran seperti apa rasanya? Silakan langsung datang ke Baki Dimsum & Coffee.

Lidah dan mata Anda bakal benar-benar dimanja dengan berbagai suguhan spesial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *