House Of Coffee dan Kenangan yang Tersisa

“Tidak ada kopi paling enak. Kopi adalah perjalanan spiritual masing-masing.” – Agus Prasetyo, CEO dan Barista House Of Coffee

Suatu waktu saya pernah memuji kopi olahan Mas Agus, pemilik sekaligus Barista di House Of Coffee (HOC). Saya memuji betapa nikmat kopi racikannya dan betapa lihai ia meracik kopi. Saya terang-terangan bilang bahwa kopi racikannya adalah kopi paling enak yang pernah saya minum. Dia menjawab pujian saya dengan sesimpul senyum dan selanjutnya berkata bahwa “Tidak ada kopi paling enak. Kopi adalah perjalanan spiritual masing-masing. Tidak ada Barista paling handal. Setiap Barista memiliki perjalanan yang tak sama.”

Sebagai orang yang tak begitu paham soal kopi, tentu saya hanya bisa manggut-manggut sambil sedikit mencerna ucapan Mas Agus tersebut. Sekira dua-setengah anggukan saya, ia pun melanjutkan penjelasannya, bahwa soal rasa kopi, manusia tidak bisa menyimpulkan mana yang paling enak, begitu juga soal kemampuan meracik kopi. Dalam kasus saya misalnya, belum tentu penilaian saya tentang kopi racikan Mas Agus paling enak itu betul, karena sangat mungkin kesimpulan itu saya dapat hanya karena saya masih memiliki sedikit pengalaman soal rasa kopi. Bisa saja, di tempat lain yang belum sempat saya kunjungi, kopinya lebih enak dari kopi racikan mas agus. Jadi, kesimpulan saya bahwa kopi racikan Mas Agus paling enak itu bersifat sangat relatif, meski kenyataannya hampir setiap teman saya yang menyicip kopi racikan Mas Agus selalu sepakat bahwa kopi racikannya memang enak.

Jujur saja, ketika melontarkan pujian tersebut saya memang tidak berpikir panjang. Itu hanya ekspresi gumun saya saja. Barangkali mirip dengan ekspresi Butet Kartaradjasa waktu memberi opini soal Freeport. Dan sungguh, seperti Pak Butet lagi, saya juga tidak menyangka bahwa respon yang timbul akan seserius itu. Meski untungnya, dalam kasus saya yang merespon hanya Mas Agus. Selanjutnya, pada kesempatan-kesempatan yang lain, ketika datang ke HOC saya sering terlibat diskusi dengan Mas Agus tentang kopi. Pada akhirnya, saya mengakui bahwa saya mendapat banyak pengetahuan darinya.

Tentang nama House Of Coffe, saya sendiri tidak pernah bertanya langsung tentang arti dari nama tersebut. Namun begitu, entah karena dorongan apa, saya beberapa kali justru mendiskusikannya dengan pelanggan yang lain. Kami, para pelanggan HOC, memiliki asumsi yang berbeda-beda tentang nama tersebut. Bagi saya, hal itu sangat menarik. Ini seperti ajang apresiasi seni. Dari diskusi tersebut, setidaknya kami memiliki dua asumsi besar tentang penamaan HOC.

Asumsi yang pertama, House Of Coffee memiliki filosofi sebagai rumah kopi yang menyatukan berbagai kopi dari daerah-daerah dan karakter yang dimilikinya. Jika kita perinci lagi, Rumah sendiri memiliki filosifi sebagai tempat ‘pulang’ dari kopi-kopi tersebut. Kopi-kopi yang telah memiliki perjalanan panjang dari mulai ditanam, dipanen, hingga berlabuh pada sesapan-sesapan lidah kita. Melakukan sunatullahnya sebagai kopi. Nah, sebelum berlabuh pada sesapan-sesapan kita, kopi-kopi itu bisa kita jemput di rumah mereka­—Adalah House Of Coffee.

Kemudian Kopi, kopi yang dimaksud di sini bukanlah kopi dalam arti yang sesungguhnya. Kopi-kopi itu justru adalah kita, para pelanggan yang dipertemukan dalam satu rumah. ‘Balung pisah’ yang disatukan kembali lantaran kopi. Bukankah di kedai kopi mana pun kita adalah orang-orang yang dipertemukan dalam satu ruang? Ya, benar. Tapi maaf, di HOC berbeda. Orang-orang yang datang ke HOC akan benar-benar ‘bertemu’ dan tidak sekedar dikumpulkan dalam satu ruang untuk selanjutnya sibuk menekuri gadget-nya masing-masing. Mereka akan saling mengobrol seperti telah saling lama mengenal meski kenyataannya sama-sama asing. Jika tidak terbiasa mengobrol dengan orang baru, Mas Agus selalu siap untuk menjembatani perkenalan kita. Saya sendiri sampai lupa, sudah berapa kali saya datang seorang diri tanpa teman ke HOC dan beberapa waktu kemudian saya sudah sedang bersama teman-teman baru.

Di HOC, dari awal saya mengenalnya, memang tidak disediakan wifi dan buku menu. Hal ini disengajakan oleh Mas Agus agar kopi kembali ke salah satu fungsi awalnya, yaitu membuat orang saling berinteraksi.

Menyoal wifi, barangkali kita sudah sama paham kenapa hal itu dihindarkan dari jangkaun HOC. Ya, agar kita tidak bermain gadget. Sedang untuk buku menu, barangkali memang perlu sedikit penjelasan. Bagi Mas Agus, tidak menyediakan buku menu itu bertujuan agar pelanggan bertanya tentang apa-apa yang disediakan HOC langsung kepada Barista. Dengan begitu, mau tidak mau interaksi antar pengunjung dengan Barista terjadi.

Oh ya, sebelum mengakhiri catatan ini, saya mau menyampaikan sedikit informasi. Jika teman-teman penasaran dimana alamat HOC dan ingin mengunjunginya, maka teman-teman harus rela mengurungkan niatan tersebut karena kalian tidak akan pernah menemukan HOC. Bukan. Bukan karena HOC adalah sebuah cerita fiksi. Namun karena sejak tanggal 20 kemarin, HOC resmi tutup. Jangan kecewa sendirian dengan informasi tersebut, karena sejujurnya saya juga kecewa. Namun begitu, saya tidak akan pernah berkata goodbye pada HOC. Karena nyatanya, hingga kini, HOC dan segala yang ada di dalamnya, telah abadi dalam kamus rasaku. (M. Adlan A)

 

M. Adlan A merupakan mahasiswa susah lulus dari UIN Jogja. Saat ini bekerja di Yayasan Kampung Halaman Yogya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *