Kronology Coffee and Bites: Bikin Kopimu Sendiri Di Sini!

Bosan dengan rutinitas Anda sehari-hari? Ingin mencoba sesuatu yang baru?

Cobalah kunjungi Kronology Coffee and Bites di bilangan Catur Tunggal, Depok, Sleman. Di kedai kopi ini, Anda tidak hanya bisa menikmati sajian kopi-kopi enak, namun Anda juga berkesempatan membuat kopi Anda sendiri!

Wah, seru banget, kan?

Handy, salah satu owner Kronology Coffee and Bites, mengungkapkan bahwa kedai kopi yang ia kelola ini mengusung konsep open bar.

“Jadi orang mau belajar, silakan. Kalau misalkan mau nge-brew sendiri juga nggak masalah,” ujarnya kepada tim Kopiparti, 18 Agustus silam. “Karena apa? Awalnya kita bikin adalah untuk belajar bareng. Untuk sharing. Karena aku masih belajar, jadi kita sharing bareng ajalah sama customer. Kalau ada customer yang bisa ngajarin kita, ya udah nggak apa-apa. Kita tuker ilmu.”

Menurut pria berusia 25 tahun itu, alasan tersebutlah yang mendasari nama Kronology. Ia ingin agar orang-orang bisa menciptakan kronologinya sendiri di sini.

Dengan penuh semangat, ia menceritakan salah satu customer-nya yang membuat cappucino untuk pertama kalinya di tempat itu.

“Dan itu sangat mengena buat dia. Dia foto, masukin Instagram,” ujarnya. “Makanya, kita desain tempat ini supaya orang bisa enjoy dengan waktunya sendiri.”

Hal itu sangat senada dengan tulisan yang terpampang pada pintu masuk Kronology. Tulisan itu merupakan kata-kata terkenal dari Maya Angelou. Bunyinya begini:

“People will forget what you said. People will forget what you did. But people will never forget how you made them feel.”

Sepertinya, experience dari setiap pelanggan menjadi salah satu fokus utama kedai kopi ini. Supaya setiap orang yang pernah datang ke Kronology, selalu ingin mampir kembali.

Menurut Handy, Kronology memang sengaja ia desain untuk orang-orang yang ingin menyendiri. Kedai kopi ini, menurut penuturannya, kurang cocok untuk berkumpul dan ngobrol bersama banyak orang.

“Itu kenapa namanya Kronology. Karena lebih pengen orang menikmati prosesnya sendiri. Entah dia mau ngapain. Mau bikin kopi, atau mau ngapain, silakan.”

Apakah cuma itu saja kelebihan Kronology?

Tentu tidak. Kedai kopi ini memiliki empat signature product yang siap Anda nikmati. Keempat signature product Kronolgy adalah: Greenpresso, Sweet Volcano, Lips Tobacco, dan Rumore Americano.

Semuanya merupakan hasil eksperimen sendiri, dan masing-masing punya keunikan rasa yang berbeda-beda.

“Sweet Volcano itu dicampur sama stroberi,” ujar Handy menjelaskan. “Lips Tobacco itu lebih milky, dan juga lebih pekat kopinya. Karena espresso kita bikin 40 mili. Jadi manual, nggak pakai satu shot. Nah, kalau Rumore Americano itu pakai soda, jadi dia lebih seger.”

Soal kualitas kopi, Kronology tidak main-main. Jika Anda berkunjung ke kedai kopi ini, Anda akan mendapati tiga spot kopi. Ketiga spot itu sengaja dibuat untuk membedakan asal kopi.

Spot pertama adalah untuk kopi-kopi lokal.

“Kebetulan sekarang isinya dari Darat semua, dan memang kita biasanya selalu nyetok Darat, karena dia roasting-nya lebih ringan, dan asem, enak diterima,” ujar Handy.

Spot yang lain berisi kopi dari Jakarta. Secara terbuka, Handy mengatakan bahwa ia biasanya mengambil kopi dari Coffeesmith, Smoking Barrels, Say Something, dan tempat-tempat lain.

“Di tengah ini untuk guest beans,” ujar Handy sambil menunjuk spot ketiga. “Kemarin kita ambil dari April. Itu kopi dari Copenhaggen, Denmark.”

Guest beans ini memang sengaja dibuat tidak tetap, bukan hanya mengambil dari April. Tujuannya, menurut Handy, adalah supaya customer selalu mendapat rasa yang berbeda-beda setiap kali berkunjung.

Terkadang Handy pun memilah antara beans yang memiliki rasa asam dan manis. Customer bisa memilih sendiri rasa yang mereka inginkan.

Soal harga, ketiga spot itu memiliki range harga yang berbeda.

“Kalau lokal harganya Rp25.000,00. Yang dari Jakarta Rp30.000,00. Kalau yang dari guest beans itu menyesuaikan,” ujar Handy. “Maksudnya, menyesuaikan dari mana itu. Apakah ambil dari Gardelli yang lebih mahal? Atau dari Coffee Collective? Atau apa? Nanti kita menyesuaikan. Makanya di sini nanti ‘Ask Our Barista’ tulisannya.”

Jadi, jika Anda berkungjung ke Kronology, jangan segan untuk bertanya pada barista yang tengah bertugas, tentang beans yang tersedia saat ini.

Handy sendiri menjadi penikmat kopi semenjak masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta. Awalnya, tak pernah terbersit di benaknya untuk berkarier di bidang kopi seperti saat ini.

“Jadi kalau sebelumnya itu, aku cuma penikmat aja memang. Aku nggak pernah nge-bar sama sekali,” ujar pria yang asli kelahiran Yogyakarta ini. “Dulu pun aku cuma nge-brew di rumah sendiri. Dan memang pada dasarnya karena sukanya aja sama kopi.”

Kecintaannya pada kopi bermula ketika banyak temannya di Jakarta yang membuka coffee shop. Ia mengakui menyukai kopi karena kandungan kafein yang membuatnya lebih semangat beraktivitas.

Awalnya pun dulu ia adalah penikmat latte. Lantaran sering “dicekoki” geisha oleh teman-temannya yang memiliki kedai kopi, ia pun menjadi keranjingan kopi-kopi hitam yang lebih pahit.

Setiap ia berkunjung ke kedai kopi milik teman-temannya, ia selalu diajak untuk mencoba kopi-kopi baru. Rasa penasaran akhirnya menuntunnya untuk lebih mendalami kopi.

“Sampai saat itu aku belum mau terjun ke dunia kopi untuk mendapatkan penghasilan,” aku Handy. “Maksudnya kayak, ya udahlah, aku suka aja. Sampai pada akhirnya, ya ini, kayak gini.”

Selepas lulus kuliah, ia sempat bekerja sebagai pegawai di sebuah bank swasta di Jakarta. Namun entah mengapa, ia merasa tidak cocok bekerja sebagai karyawan. Akhirnya ia banting setir, pulang ke tanah kelahirannya.

Di Bantul, ia membuka usaha pertanian. Produk-produk yang dijual adalah pestisida, benih, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pertanian.

Sayang, usaha itu hanya manis di awal-awal berdirinya. Cuaca yang tak menentu membuat pemasukan Handy ikut tidak menentu.

“Pernah sampai setahun itu rugi. Rugi banget. Karena apa? Karena nggak ada musim hujan, kemarau terus. Satu tahun kemarau terus, tahun depannya hujan terus. Itu parah banget, dan memang itu drop banget,” ujarnya.

Dari situlah ia mulai berpikir untuk kembali banting setir. Setelah berpikir beberapa lama, akhirnya ia memutuskan untuk nyemplung ke dunia perkopian secara total.

Maka, dimulailah usaha baru yang ia beri nama Kronology. Dalam menjalankan kedai kopi ini ini, Handy tak sendiri. Sejak awal, ia mendirikannya berdua dengan seorang teman yang bernama Adit.

Handy dan Adit sama-sama pecinta kopi. Adit bahkan pernah menduduki posisi manajerial sebuah jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat. Soal pengalaman mengelola kedai kopi, tak perlu diragukan lagi.

“Jadi begitulah. Jalan berdua. Aku pegang manajemen dan keuangan, dia kopi dan semua operasional di sini,” ujar Handy.

Bagaimana? Sudah tak sabar ingin mencoba membuat kopi pertama Anda sendiri?

Silakan langsung berkunjung ke Kronology. Kalau ingin sedikit berhemat, datanglah tanggal 24 setiap bulannya.

Mau tahu alasannya?

“Jadi tiap tanggal 24, kita ada diskon 24%,” ujar Handy. “Selalu, setiap bulannya. Karena tanggal 24 itu tanggal kita opening awal.”

Oke punya, kan?

Sebelum berangkat ke Kronology, ada baiknya Anda simak terlebih dahulu video ciamik berikut ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *