Sinergi Coffee Brewer: Menyinergikan Kopi Dengan Manusia

Kalau ada sebuah kedai kopi di Jogja yang juga sekaligus menjadi pangkalan tukang ojek online, maka Sinergi Coffee Brewer tempatnya.

Jika mampir ke kedai kopi yang terletak di Jalan Gayamsari No. 17 ini, Anda akan mendapati banyak lelaki berjaket serba hijau nongkrong di bagian luar atau dalam kedai. Beberapa dari mereka bahkan merupakan brewer di kedai kopi ini.

Adalah Surya Harbi dan Agie Roeslan, dua brewer Sinergi, yang berkesempatan berbincang dengan tim Kopiparti pada tanggal 22 Agustus silam.

Ketika kami berbincang, Agie baru saja pulang setelah mengantar klien ojek online dari kawasan Jalan Godean.

Surya Harbi, atau yang akrab disapa Mas Umbel, mengaku baru setahun berprofesi sebagai brewer. Meskipun baru setahun, namun ia cukup kenyang berhadapan dengan para “pendekar”.

“Paling sengak adalah ‘pendekar kopi susu’,” curhat Surya. “Baru kali ini kan, dengar Pendekar Kopi Susu? Biasanya kan ‘pendekar pure kopi’, single origin gitu. Kalau pendekar kopi biasa sudah banyak di Jogja. Nah, kalau pendekar kopi susu ya cuma satu ini saya temui. Rumahnya di dekat sini, kok!”

Celetukan Surya itu sukses membuat tim Kopiparti terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Eskpresi yang ditunjukkan Surya merupakan kombinasi antara ekspresi mangkel dan jijik.

Karena penasaran, saya coba gali lebih dalam soal spesies pendekar paling anyar ini.

“Selayaknya pendekar, yang dikomplan adalah rasio antara kopi dan susunya. Ada yang bilang kemanisan, lah, terlalu pahit lah, gitu-gitu Mas.”

Di antara kedua brewer Sinergi yang kami temui sore itu, Surya a.k.a Mas Umbel adalah yang paling cablak.

Seperti tanpa beban, ia bisa dengan bebas menyuarakan apa yang ia pikirkan. Blak-blakan, tanpa sensor. Terkadang dibumbui dengan kata-kata kotor, yang entah mengapa berhasil mengocok perut kami lebih keras.

Dengan blak-blakan pula ia menjelaskan alasannya memilih profesi sebagai brewer.

“Kita jadi brewer di sini juga karena BU (red: butuh uang) kok. Kita nggak idealis, Mas. Idealis itu ibaratnya t*i kucing lah, Mas!” seru Surya berapi-api. “Kita juga ya… butuh makan. Makanya kita jadi brewer. Kalau idealis nggak punya pasarnya, ya percuma.”

Seruan itu diamini oleh Agie, rekan seprofesinya, sambil terkekeh-kekeh.

Berada di Sinergi bersama orang-orang ini sungguh menyenangkan. Seperti berkunjung ke rumah kawan lama, lalu ngobrol lepas kendali. Mulai dari kelakuan pejabat korup, hingga artis JAV terbaru yang sedang naik daun.

Ketika saya bertanya soal asal-usul nama Sinergi, ekspresi dan nada bicara Surya berubah menjadi agak serius. Saya pikir, dia ingin memberi jawaban yang lebih serius dari sebelum-sebelumnya.

Ternyata, pikiran saya salah…

“Kenapa namanya Sinergi? Soalnya kita mau menyatukan antara orang dengan kopi. Maksudnya tuh, menyambungkan gitu. Agar orang bisa bersinergi dengan kopi. Kata-kata Sinergi kan lagi in nih di 2017. Menyinergikan… Menyinergikan…” Surya berujar sambil haha-hehe.

“Intinya sih kita mau mengolaborasikan, menyatukan, antara peminum dengan sekitarnya. Kan kita juga nggak ada Wi-Fi. Jadi dateng, terus saling ngobrol ke brewer, atau konsumen lain,” sambung Surya.

Ini yang paling saya suka dari sesi wawancara kali ini. Jika kedai kopi lain sibuk menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki, Sinergi bertolak belakang. Dengan jujur dan apa adanya, mereka bisa begitu nyaman menyebutkan kekurangan yang mereka miliki. Tapi justru di situlah letak kelebihan mereka.

Memang begini kok, mau gimana lagi? Terima sukur, nggak terima ya udah. Begitulah pesan tersirat yang saya tangkap dari obrolan sore itu.

Terkadang, kejujuran macam inilah yang paling saya rindukan dari bincang-bincang bersama kawan. Mengakui bahwa kita memang bukan makhluk tak bercela. Tidak seperti kebanyakan selebgram, atau YouTuber Indonesia, yang selalu ingin tampak paling sempurna di hadapan manusia lainnya.

Salah satu hal yang paling mencolok mata jika Anda berkunjung ke Sinergi adalah papan berisi tulisan tangan para pengunjung. Isinya pesan dan kesan selama mengunjungi Sinergi. Ada yang serius, namun kebanyakan bernada lucu.

“Hiasan ini idenya karena nggak ada konsumen, terus brewer-nya nempel-nempelin,” ujar Surya sembari ngakak. “Pertamanya brewer-nya sendiri, terus ada konsumen nempelin kata-kata apalah gitu.”

Strategi itu, ujar Surya, memang sengaja dilakukan untuk menarik konsumen. Maklum, Sinergi baru berdiri pada pertengahan Februari tahun 2017 lalu. Artinya, umurnya baru menginjak 7 bulan. Memang dibutuhkan strategi-strategi unik macam ini untuk membuat grafik pertumbuhan konsumen meningkat pesat.

Strategi lain, tentu saja dari produknya. Apalah arti kedai kopi, jika tanpa kopi yang enak.

“Kalau Sinergi ini, kita menonjolkan kopinya. Single origin, manual brew, kopi susu, cappuccino,” ujar Surya. “Kopi kita insyaAllah kopi-kopi enak. Kita ambil kopi di Koperasi Klasik Beans, sama di Pier Coffee. Koperasi Klasik Beans itu sudah berdiri lama. Dia berkecimpung di kopi udah lama. Kopinya juga kopi enak-enak. Dia punya andalan namanya Sunda Hejo.”

Strategi lain yang tak kalah unik dari Sinergi adalah sebuah kartu yang disebut KRS. Kepanjangannya: Kartu Rencana Seduh. Jika Anda memiliki KRS, Anda akan mendapat gratis 1 kali seduhan (menu apa pun itu) setelah memesan 5 kali seduhan (menu apa pun itu).

Prinsipnya: beli 5, gratis 1.

KRS ini baru diluncurkan pada bulan Juli lalu. Anda bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Kartu ini berlaku seumur hidup, dan dapat ditukar kalau kolom sudah penuh.

Mantap jiwa, bukan?

Di tengah persaingan kedai kopi yang cukup sengit di kota Jogja, menawarkan sesuatu yang unik menjadi keharusan tersendiri. Menurut saya, Sinergi cukup berhasil.

“Alangkah baik kalau warung-warung kopi di Jogja itu saling mendukung satu sama lain,” ujar Agie Roeslan, menanggapi persaingan antar kedai kopi di kota Jogja. “Sudah rahasia umum, kalau main ke warung kopi tertentu, pasti ada omongan yang menjatuhkan warung kopi lain. Lebih baik kalau saling mendukung. Kita kan sama-sama nyari penghasilan, untuk meramaikan khasanah kopi Jogja.”

Surya mengamini ucapan Agie. Lebih lanjut, ia menaruh harapan agar tidak ada lagi investor yang membangun kedai kopi lagi di Jogja. “Warung kopi di Jogja ini udah banyak! Mending bikin geprek, bakulan ciu, sekarang sudah jarang. Ketimbang buat warung kopi, hitam, rasanya juga cuma gini. Gimmick marketing! ‘Rasanya ini floral!’ Padahal yo pahit juga. Kalau cuma bau, ya cuma gimmick juga. Mending investor-investor ini bikin ayam geprek!”

Lagi-lagi, kami dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Ada-ada saja buah pikir brewer satu ini.

Menurut Surya, sebenarnya iklim perkopian di Jogja sudah cukup baik. Ia berujar, selama ini ada banyak warung kopi di Jakarta melakukan ekspansi ke Jogja. Alasannya, kebanyakan warung kopi di Jakarta tak lagi diminati. Penyebabnya? Menurut pengamatan Surya, warung kopi lokal di Jakarta kalah oleh sebuah jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat.

Jaringan kedai kopi global tersebut berani memilih tempat-tempat strategis. Contohnya, seperti di apartemen-apartemen. Sementara itu, warung-warung kopi terkenal di Jakarta lokasinya hanya di pinggiran.

“Ya di kota, tapi di pinggiran. Makanya dia berani ekspansi ke Jogja,” terang Surya. “Buanyak jumlahnya. Dia berani modal gede. Tapi ya itu, harganya nggak disesuaikan sama harga di Jogja. Harganya masih harga Jakarta.”

Bicara soal pasar kopi di Jogja, Agie Roeslan berpendapat bahwa yang terbesar adalah mahasiswa. Selain harga, yang menjadi pertimbangan utama adalah tempat yang nyaman.

“Selain itu, mereka juga butuh ngopi juga. Jadi sambil ngopi, bisa sambil ngerjain tugas. Kita nggak bisa lepas dari mahasiswa-mahasiswi. Sini kan kota pelajar ya, Mas,” ujar Agie.

Surya manggut-manggut mengiyakan. Suaranya kembali lantang tatkala saya menanyakan apa harapan Surya ke depan soal Sinergi, dan perkopian di Jogja secara umum.

“Harapannya sih, Sinergi ke depan punya AK-47 Mahlkonig seharga 34 juta! Ngangsur nggak apa-apa!” ujarnya sambil terbahak. Yang mendengarkan ikut ngakak. “Ya harapannya, semakin besar nama Sinergi. Kalau bisa diperluas tempatnya, dan dipercantik lagi. Ada Wi-Fi. Penting itu! Bukan karena brewer-nya butuh Wi-Fi, tapi konsumennya tuh rata-rata ya memang pencari Wi-Fi. Fasilitas tuh the king lah, Mas. Itu untuk mengundang orang untuk tertarik masuk!”

Mari kita berdoa, semoga apa yang diharapkan Surya menjadi kenyataan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Sudah ngebet ingin ngopi di Sinergi? Sebelum berangkat, simak dulu videonya di bawah ini:

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *