Sejarah Kopi dan Kritik
Dua Douwes dekker.
Kopi mengandung salah satu nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh kita, begitu pula kritik. Kita sepakat bahwa kritik adalah vitamin untuk demokrasi, iya demokrasi di negara yang kita cintai ini.
Kopi berjasa menemani para pahlawan di berbagai macam negara dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa nya ataupun untuk memperjuangkan sistem demokratis di bangsa mereka.
Termasuk bangsa kita.
Kopi salah satu komoditas yang banyak sekali di tanam oleh masyarakat Hindia Belanda saat itu. Ketika tiga serangkai pertama tanah air kita yaitu Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Cipto Mangunkusumo meletakkan dasar dasar nasionalisme kepada setiap insan di nusantara ini. Mereka juga pasti belajar dari revolusi Perancis yang dimulai juga dengan kopi di tengah diskusi para kaum intelektual di Perancis era itu.
Kopi, kenapa kopi ? Nah kalian harus baca artikel kita tentang kopi dan revolusi perancis. nanti bakal tau kenapa kopi? Kenapa bukan teh atau susu atau beer? Hihi.
Oke dari sejarah mungkin di mulai dari ” tiga serangkai pertama ” kita yang rata rata lahir di akhir abad 19 dan awal abad 20 ,yaitu Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Cipto Mangunkusumo .
Ada juga bapak republik kita Tan Malaka, hingga bapak revolusi kita yang juga ada di dalam ” tiga serangkai kedua ” yang nanti nya disebut pelaksana nasionalisme itu sendiri yaitu Ir .Soekarno, Bung Hatta, dan Sutan Sjahrir dan masih banyak lagi.
Sejarah kopi nusantara di mulai di Abad 17 tahun 1600an benih kopi dari tanah Arab tepat nya Yaman, dibawa oleh beberapa pejabat Hindia Belanda yang akan bertugas di Nusantara, sehingga ada kesempatan untuk menanam benih kopi di tanah kita. Akhirnya karena iklim yang baik dan tanah yang subur , tumbuhlah kopi secara masif dan berkualitas di tanah Nusantara ini.
Di tahun 1800 akhir ada seorang anak laki laki di beri nama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, beliau lahir di Jawa Timur, ayah nya adalah orang Belanda ibunya orang jawa asli, karena keturunan Belanda dia diperlakukan istimewa di banyak kondisi, tetapi karena darah Jawanya yang kental beliau merasa orang pribumi sejak kecil. Nanti nya beliau mengganti namanya dengan nama baru yaitu Danudirja Setiabudhi.
Dia kuliah di Swiss dan pulang ke Jawa untuk bekerja di perkebunan kopi di jawa timur tepat nya di daerah Malang, dia bekerja sebagai manager / pengawas perkebunan kopi milik pengusaha Hindia belanda ,tentunya kecintaannya kepada kopi di mulai dari sini. Di sini dia merasa tergugah oleh ketidakadilan yang terjadi di perkebunan kopi ,tentunya terhadap petani kopi pribumi yang bekerja di perkebunan itu, sehingga rasa nasionalisme itu tumbuh dan membuat dirinya ingin membela rakyat yang terjajah dan membuat gerakan pertama dengan nantinya membuat ” partai ” pertama bernama Indische Partij bersama dua rekan nya sebagai Tiga Serangkai pertama.
Douwes Dekker kedua yaitu Eduard Douwes Dekker, Douwes Dekker kedua ini lahir di Amsterdam Belanda, beliau besar sebagai penulis. Memang masih ada hubungan saudara dengan Douwes Dekker pertama tapi sedikit jauh, dia datang ke hindia belanda untuk menulis dan tinggal di beberapa tempat. Karena melihat kondisi kerja paksa terhadap petani yang juga ada petani kopi di dalamnya, beliau menulis novel yang cukup fenomenal bernama Max Havelaar yang berisi tentang kehidupan petani pribumi yang mendapatkan ketidakadilan di tanah milik mereka sendiri, dia menulis dengan nama lain yaitu Multatuli.
Selain dua cerita peran diatas. Bapak Republik kita, datuk tan malaka juga pernah bersentuhan dengan komoditas indah ini, karena pekerjaan pertama beliau setelah kembali dari mengeyam pendidikan guru di belanda adalah menjadi guru di dalam perkebunan belanda di sumatra utara, sehingga dia juga ikut bersentuhan dengan petani kopi yang di ajari cara menyangkul tanah dan menanam benih kopi serta merawat tanaman nya dengan baik.
Sedikit tentang tiga cerita Dua Douwes Dekker dan Tan malaka di atas sudah cukup memberikan gambaran relasi antara kopi dan dunia politik atau kritik terhadap penguasa. Sehingga saya bisa menyimpulkan bahwasanya kopi adalah bahan bakar manusia untuk berfikir secara realistis dan bijaksana, layaknya kritik adalah vitamin untuk demokrasi. Kopi adalah bahan bakar dari kritik tersebut. Sehingga ketika kita memberikan kritik terhadap pemerintah setelah meminum kopi, kita telah menyumbangkan sedikit vitamin untuk demokrasi di negeri tercinta kita ini.
Kritik itu sehat, terutama kritik yang membangun.
ada pepatah bilang demonstrasi adalah inti dari demokrasi.
karena tanpa demonstrasi demokrasi adalah sia sia.
Salam sehat semuanya
Meet Us
Jl. Nologaten
Caturtunggal
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
55281 Indonesia
Copyright © 2021 Kopiparti™ Indonesian Coffee Industry Archives, All right reserved