Tutup di mata Pelanggan

Sabtu 02 Oktober 2021, 15:00 WIB
di tulis oleh admin

 

Tiap akhir pekan Tamio Soda selalu menikmati waktunya. Akhir pekan adalah waktu bagi istri dan anaknya pergi ke konser idol. Jadi saat itulah Tamio bisa bepergian sesukanya. Sepulang kantor, ia langsung pergi menggunakan mobil ke daerah yang ingin dikunjungi. Biasanya sebelum pulang lagi ke rumah, ia selalu menyempatkan diri untuk menikamati makan siang di restoran langka. Langka di sini artinya restoran itu terancam tutup karena ga ada yang nerusin. Itu adalah alur cerita utama dari serial “The Road to Red Restaurant List”.

 

Tiap tempat yang gerak di bidang kuliner, biasanya punya pelanggannya tersendiri. Orang – orang yang rutin datang secara reguler ini biasanya lama – kelamaan bakal kenal sama staff ataupun owner tempat tersebut. Meski ga semuanya begitu, tapi hampir selalu ada aja cerita soal kedekatan antara pelanggan dan anggota usaha kuliner. Interior, menu, atau obrolan – obrolan ga serius di tempat itu bakal kekal di memori otak pelanggan. Maka ketika suatu tempat akhirnya terpaksa menutup tempat usahanya, rasa kehilangan ga cuma akan dialami sama owner. Staff dan pelanggan reguler itu bakal ngalamin perasaan yang sama. Di “The Road to Red Restaurant List” biasanya terlihat owner paham betul apa yang menjadi favorit tiap pelanggannya.  Bahkan dia memikirkan bagaimana nasib pelanggannya setelah tempat usahanya tutup.

 

Saya termasuk orang yang mengalami

kehilangan ketika beberapa tempat yang saya kunjungi tutup. Saya merupakan pelanggan reguler di beberapa coffeeshop. Ada yang di Jakarta, beberapa di Jogja. Mendengar coffeeshop yang biasanya dikunjungi tutup, hal pertama yang muncul di pikiran saya adalah kehilangan tempat yang nyaman. Saya adalah tipe orang yang datang ke suatu coffeeshop untuk mengerjakan sesuatu atau hanya duduk menikmati kopi. Rasa nyaman duduk tanpa suara gaduh, tentunya ga bisa ditemuin di tiap tempat. Makanya ketika tempat tersebut tutup, kehilangannya akan lebih berasa. Belum lagi, saat sudah nyaman dengan rasa yang ditawarkan tempat tersebut. Memang rasa begitu personal bagi tiap orang. Maka ketika ada rasa yang baru melalui indera pengecap kita, butuh waktu buat menyesuaikannya. Tiap tempat punya masalahnya sendiri, kadang ada owner yang secara terbuka bercerita ada pula yang enggan berbagi kisah. Soal kontrak tempat dan manajemen coffeeshop biasanya menjadi masalah umum yang melintas di telinga saya. Untuk itu, melalui tulisan ini, saya ingin sekalian berdoa agar tidak ada lagi usaha – usaha kopi yang kandas lagi. Apalagi di tengah gempuran pandemi yang tidak menentu ini. (AH)

 

Meet Us

Jl. Nologaten
Caturtunggal
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

55281 Indonesia

Connect With Us

Copyright © 2021 Kopiparti™ Indonesian Coffee Industry Archives, All right reserved